Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Pulang

Nak, kalau kamu sedih dan berduka Pulanglah, Dadaku siap menampung semua keluh Lenganku siap menopang jiwamu yang rapuh Bahuku kokoh untuk jadi tempatmu berlabuh Nak, kalau kamu lelah menantang dunia, Pulanglah. Di rumahmu, dunia hidup tanpa sandiwara Kamu bebas tertawa tanpa takut pada siapa Lepas menangis tanpa perlu mengais kasih Nak, bukalah topengmu barang sejenak Benakmu perlu beristirahat nyenyak Kutahu lelahmu tak terbayar Semangatmu padam dalam reman Gelapmu kini jadi warna yang temaram Nak, percayalah Cintaku padamu tak kenal batas Tak tahu ampun Tak akan lekang Abadi sampai akhir Bogor, Agustus 2018 Baru saja pulang.

Selamat

Suatu hari, seorang pria datang ke kamar kosku, dia menawarkan diri untuk masuk, menjagaku dari jarak dekat. Aku menolak, untuk apa? Kamar kosku sudah dilengkapi kunci dan trails. di depan, satpam kos bersiaga 24 jam penuh (meski dengan banyak toleransi). Dia tersenyum tulus menjawab penolakan.   “Kalau begitu, aku akan tunggu kamu di luar, di sini” katanya. Aku mengerenyit “Untuk apa?” dia lagi-lagi menjawab dengan senyum. Aku memutuskan untuk membiarkannya, masuk ke dalam dan menganggapnya tidak ada. Dia adalah laki-laki pertama yang mengetuk pintu kosku, tentu, dengan kenyataan itu dia juga orang pertama yang menawarkan penjagaan. Yang buatku mengerenyit, aku bahkan tidak tahu dia siapa. Ini pertama kalinya kami bertemu. Anehnya, aku sama sekali tidak takut. Dia tampan, dan aura yang terpancar dari matanya membuatku teduh. aku bisa saja mempersilahkannya masuk kalau kamarku sedang tidak berantakan (sekali) dan berdebu. Sekitar pukul sepuluh malam, aku mengintip ke l...

Cinta dalam Segenggam Cahaya #1

#1 Rudy, Dita, dan Perspektif Mereka “Ta, menurut lo, hidup itu kayak   gimana?” kata Rudy, disela-sela suapan siomay yang dia pesan untuk kedua kalinya. Rudy ini anaknya so puitis. Awalnya si, gue ikut terhanyut atas semua bualan dia tentang dunia, akhirat, agama, dan semua hal yang ada di orbitnya. Tapi lama-lama gue muak. Sayang, diantara semua orang yang kenal gue, Cuma si Rudy ini yang dengan sabar dan tabah menghadapi ketamakan gue.             “ya kaya gini, kaya lo, kaya gue, kaya semua mahkluk yang lagi nafas di seluruh dunia” kata gue males. “tumbuhan juga nafas kalo kaya gitu mah, Ta” matanya Rudy menyipit, keliatan banget kalo gak puas sama jawabannya. Tapi kan tumbuhan emang hidup Rud. “nilai biologi lo berapa? Baru tahu kalo tumbuhan itu mahkluk hidup?” “ But they can’t   make their own desiccion. It’s not life that I try to talk ” Rudy bales omongan gue pake mata yang menyala-nyala, seperti biasa kalo ...

Upaya Bosan

Rasa yang terlalu diumbar lama-lama akan hambar. Perasaan yang manis, jika terlalu lama dikecap lama-lama akan kecut juga. Hh... Aku gak sanggup kalo harus menunjukkannya terlalu terang benderang, nyaliku hanya sampai pada kode remang-remang. Berharap sampai di tengah arus sinyal yang terganggu hujan : syusyah syampai. Tapi, aku selalu berusaha menuliskannya lewat kata kata cinta yang mengandung unsur rayuan pulau kelapa. Bukannya apa-apa, aku mencoba menuliskanmu lewat hal yang menurutku menggelikan : puitis yang bucin. Kaya gini. Harapannya, aku akan sampai pada titik dimana aku menertawakan diri yang terus tertuju kepadamu. Ahahaha.. I'm a half-stupid girl. Lalu, lama lama aku akan berpaling, tanpa meninggalkan sedikitpun rasa benci atau keraguan. Sebenernya, aku gak semenghamba itu sih, aku masih nerimo dan lapang dada kalo kamu tiba-tiba kenalin pacar. Aku juga tahu diri kalo kamu gak suka aku. Aku cuma kasian sama perasaan perempuanku yang ingin juga dipuja dan dimanja. H...

Tanyakan Apa

Apa yang bisa kau ceritakan dari fajar yang menyingsing? Harapan? Ketakutan? Apa yang bisa kau telan dari senja yang menggelap? Terlelap? Atau bersiap? Apa yang kau takutkan dari kehilangan? Apa yang kau syukuri dari ketidakpastian? Lalu, apa yang sedang kau fikirkan, Kau tanyakan, Kau renungkan, Bersama malam yang tak bosan datang? Sudikah kau jawab tanyaku dalam angan? Inginkah kau datang menangkap tanya yang tak sanggup aku elakkan? Sungguh, Mimpiku kini, hanya sebaris kata tanya, Apa?

Puisi Rindu

Kalau rindu bisa berubah menjadi sendu Bunuhlah aku dengan serdadu di segala penjuru   Karena bimbangku dipenuhi bingung dan ragu Puisi ini tertulis tanpa tuju Hanya untaian kata yang mengalir lewat sela-sela jari Yang darinya, terselip mimpi untuk menangkap hangat kalor dari tubuhmu Mencairkan beku dan biru sayapku Membebaskan asa hingga aku mampu melanglang Melewati dunia hingga pergi dan menghilang Wahai manusia tangguh bermata sayu Tidakkah kau temukan aku dalam sajak cinta itu? Yang kau baca dalam duduk di depan jendela ruang tunggu Tidakkah kau dengar aku dalam rindu yang melagu? Lewat kicauan burung kala senja di depan altar Akulah wanita tak bertuan, Yang sayapnya beku dan membiru Matanya gelap tertutup kabut Merintih nyeri karna rindu yang berdenyut Berharap, rasanya bisa sampai lewat puisi cinta, Lalu didendangkan oleh burung gereja Hingga kamu sadar dan bantu aku untuk pulang.

Tidak Percaya Diri

Lelah, resah, dan gelisah memang menjadi materi yang paling mudah untuk digodok menjadi sebuah coretan. Kalau aku buka semua lembaran yang pernah aku torehkan, maka warnanya tak pernah jauh dari hitam, merah atau kelabu. Padahal, aku menyukai hijau yang teduh, atau kuning yang hangat, atau biru yang semangat. Tapi tinta tulisanku, tak pernah lebih berwarna dari raibow cake yang di jual di jalan. Apalagi jika dibandingkan es lima ribu yang sudah tercampur pewarna tekstil : berwarna, menggiurkan. Hari ini, aku tenggelam dalam diskusi sekumpulan orang tua yang mencoba mengarahkan anak kesayangannya. Bukan aku. Aku tak pernah jadi kesayangan di manapun. Di saat yang sama, aku merasa cemburu, lalu sebagian diriku merasa tesentil, sebagian lainnya mencoba mempertahankan harga diri yang makin lama makin larut dalam ketidak berdayaan. Aku ingat bagaimana semangatku dulu, dan aku tak akan pernah lupa bagaimana tatapan mereka melunturkan kepercayaan yang selama ini aku bangun dengan tela...