Tidak Percaya Diri
Lelah, resah, dan gelisah memang menjadi materi yang paling mudah untuk digodok menjadi sebuah coretan. Kalau aku buka semua lembaran yang pernah aku torehkan, maka warnanya tak pernah jauh dari hitam, merah atau kelabu. Padahal, aku menyukai hijau yang teduh, atau kuning yang hangat, atau biru yang semangat. Tapi tinta tulisanku, tak pernah lebih berwarna dari raibow cake yang di jual di jalan. Apalagi jika dibandingkan es lima ribu yang sudah tercampur pewarna tekstil : berwarna, menggiurkan. Hari ini, aku tenggelam dalam diskusi sekumpulan orang tua yang mencoba mengarahkan anak kesayangannya. Bukan aku. Aku tak pernah jadi kesayangan di manapun. Di saat yang sama, aku merasa cemburu, lalu sebagian diriku merasa tesentil, sebagian lainnya mencoba mempertahankan harga diri yang makin lama makin larut dalam ketidak berdayaan. Aku ingat bagaimana semangatku dulu, dan aku tak akan pernah lupa bagaimana tatapan mereka melunturkan kepercayaan yang selama ini aku bangun dengan tela...