Postingan

Menampilkan postingan dengan label Prosa

Tidak Percaya Diri

Lelah, resah, dan gelisah memang menjadi materi yang paling mudah untuk digodok menjadi sebuah coretan. Kalau aku buka semua lembaran yang pernah aku torehkan, maka warnanya tak pernah jauh dari hitam, merah atau kelabu. Padahal, aku menyukai hijau yang teduh, atau kuning yang hangat, atau biru yang semangat. Tapi tinta tulisanku, tak pernah lebih berwarna dari raibow cake yang di jual di jalan. Apalagi jika dibandingkan es lima ribu yang sudah tercampur pewarna tekstil : berwarna, menggiurkan. Hari ini, aku tenggelam dalam diskusi sekumpulan orang tua yang mencoba mengarahkan anak kesayangannya. Bukan aku. Aku tak pernah jadi kesayangan di manapun. Di saat yang sama, aku merasa cemburu, lalu sebagian diriku merasa tesentil, sebagian lainnya mencoba mempertahankan harga diri yang makin lama makin larut dalam ketidak berdayaan. Aku ingat bagaimana semangatku dulu, dan aku tak akan pernah lupa bagaimana tatapan mereka melunturkan kepercayaan yang selama ini aku bangun dengan tela...

Teman Kecil

Untuk sahabatku, yang kini tengah duduk membaca buku 'Marry Riana'.  Sesekali dia menghembuskan nafas, mendengak dan menatap langit kelabu yang tengah memuntahkan berkubik-kubik air, atau memandang lurus kedepan, kosong namun penuh arti. empat petak kolam ikan yang menghadap langsung ke arahnya, terasa lebih penuh dari sebelumnya. Bahunya tetap tegak, kokoh dalam segala tempaan angin yang membawa sejumlah air. Kini kepalanya menunduk, menutup mata, menghirup wangi tanah dan merasakan ketenangan yang dihasilkan suara gemericik hujan. Mungkin juga dia tengah merasakan segala memori yang dibawa hujan, menyesapi setiap tetesnya, menatap semua memori yang terlukis dalam buliran-buliran bening layaknya kristal. Lalu dia membisikan mantra berisi mimpi, menitipkan pesan kepada hujan, menyuruh hujan untuk turun dan menjadi saksi saat mimipi itu datang. Aku duduk di kursi yang berbeda, memperhatikan setiap gerak geriknya, dan menuliskannya dalam memori. Kini, bahunya tak seko...

Tak Tersampaikan

Ini adalah pesan yang tak pernah tersampaikan. pesan dari detak jantungku yang belakagan ini ketukannya lebih kecang ketika pantulan cahaya dari tubuhmu tertangkap oleh pupil mataku. Ini adalah pesan dari paru-paru ku yang sesak, yang kapasitas udaranya tiba-tiba mengecil ketika mulutmu mengeluarkan gelombang dan tertangkap oleh indra pendengaranku. Kamu, yang selalu berjalan dengan langkah besar, menggendong tas berwarna hitam-merah yang jahitan tali tangan sebelah kanannya sudah sedikit terlepas. dengan ponsel pintar berwarna hitam yang kamu pegang, matamu menatap lurus ke layar, tapi langkahmu pasti. kamu memang berotak jenius. masa lalu mu bilang, kamu adalah si 'otak komputer'. kamu tidak menyadari, bahwa seratus meter dari sana ada sepasang mata yang selalu mengawasi gerak gerikmu. Dia adalah aku, orang yang selalu mencari tahu tentang dirimu, selalu menyebutmu dalam doa di setiap sujud di tengah malam. Dia adalah aku, yang selalu mencandu pada wangi sabun lifebo...