Teman Kecil
Untuk sahabatku, yang kini tengah duduk membaca buku 'Marry Riana'. Sesekali dia menghembuskan nafas, mendengak dan menatap langit kelabu yang tengah memuntahkan berkubik-kubik air, atau memandang lurus kedepan, kosong namun penuh arti. empat petak kolam ikan yang menghadap langsung ke arahnya, terasa lebih penuh dari sebelumnya. Bahunya tetap tegak, kokoh dalam segala tempaan angin yang membawa sejumlah air. Kini kepalanya menunduk, menutup mata, menghirup wangi tanah dan merasakan ketenangan yang dihasilkan suara gemericik hujan. Mungkin juga dia tengah merasakan segala memori yang dibawa hujan, menyesapi setiap tetesnya, menatap semua memori yang terlukis dalam buliran-buliran bening layaknya kristal. Lalu dia membisikan mantra berisi mimpi, menitipkan pesan kepada hujan, menyuruh hujan untuk turun dan menjadi saksi saat mimipi itu datang. Aku duduk di kursi yang berbeda, memperhatikan setiap gerak geriknya, dan menuliskannya dalam memori. Kini, bahunya tak seko...